PERKEMBANGAN ARSITEKTUR MASA KOLONIAL DI KOTA PALOPO (1908-1940)

Authors

  • Syahruddin Mansyur Balai Arkeologi Sulawesi Selatan
  • Hasrianti Hasrianti Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

DOI:

https://doi.org/10.24832/tmt.v2i2.35

Keywords:

Perkembangan, arsitektur, kolonial, Belanda, Palopo

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada aspek perkembangan arsitektur bangunan masa kolonial di Kota Palopo. Tujuan penelitian ialah untuk memperoleh gambaran tentang gaya arsitektur bangunan-bangunan masa kolonial Kota Palopo. Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik observasi langsung untuk perekaman data yang dilakukan dengan deskripsi verbal dan piktorial, dilanjutkan dengan analisis terhadap bentuk, teknologi, gaya, dan lingkungan pendukung data arkeologi, dan diakhiri dengan interpretasi. Bangunan kolonial di Kota Palopo terbagi atas bangunan pemerintahan, bangunan militer, bangunan fasilitas umum, bangunan religi, dan rumah tinggal. Setiap bangunan memiliki ciri arsitektur kolonial Belanda dengan gaya arsitektur yang mewakili periode perkembangan arsitektur kolonial Belanda di Indonesia pada umumnya.

References

Abbas, N. (2006). Warna Eropa dalam Wajah Kota. Dalam Rr. Triwurjani, dkk, Permukiman di Indonesia: Perspektif Arkeologi. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Burden, E. E. (1998). Illustrated Dictionary of Architecture. USA: McGraw-Hill.

Gill, R. (1997). Dutch Colonial Settlement and Towns in Java. Dalam Eko Budiharjo (Ed.), Preservation and Conservation of Cultural Heritage in Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Handinoto. (1993). Arsitek G.C. Citroen dan Perkembangan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya (1915-1940). Dimensi (Journal of Architecture and Built Environment), Vol. 19, Agustus 1993. Link: http://fportfolio.petra.ac.id/user_files/81-005/CITROEN.pdf (Diakses 08/12/2019).

Hartono, S., dan Handinoto. (2006). Arsitektur Transisi di Nusantara dari Akhir Abad XIX ke Awal Abad XX (Studi Kasus Kompleks Bangunan Militer di Jawa pada Peralihan Abad XIX ke XX). Dimensi (Journal of Architecture and Built Environment), Vol. 34, No. 2, Desember 2006. Link: http://dimensi.petra.ac.id/index.php/ars/issue/view/2717.pdf (Diakses 08/12/2019).

Iswadi, dkk. (2013). Zonasi Istana Datu Luwu dan Sekitarnya di Kota Palopo Provinsi Sulawesi Selatan. Makassar: Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar.

Iswadi, dkk. (2015). Laporan Zonasi Tinggalan Kolonial Kota Palopo (lanjutan) Provinsi Sulawesi Selatan. Makassar: Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar.

Mahmud, M. I. (1993). Struktur Kota Palopo abad XII-XIX (Studi Arkeologi tentang Pemahaman Ekspresi dan Alam Cita). Skripsi Sarjana. Ujung Pandang: Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin.

Mahmud, M. I. (2003). Kota Kuno Palopo: Dimensi Fisik, Sosial, dan Kosmologi. Makassar: Masagena Press.

Mansyur, S. (2002). Kota Makassar Akhir Abad XVII hingga Awal Abad XX (Studi Arkeologi Ruang). Skripsi Sarjana. Makassar: Universitas Hasanuddin.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional. (2008). Metode Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Samsudi. (2000). Aspek-Aspek Arsitektur Kolonial Belanda pada Bangunan Puri Mangkunegaran. Tesis Magister. Semarang: Program Pasca Sarjana Magister Teknik Arsitektur Universitas Diponegoro.

Sumalyo, Y. (1999). Ujung Pandang: Perkembangan Kota dan Arsitektur pada Akhir Abad 17 hingga Awal Abad 20. Dalam Henri Chambert-Loir dan Hasan Muarif Ambary (Ed.), Panggung Sejarah: Persembahan kepada Prof. Dr. Denys Lombard. Jakarta: EFEO, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Yayasan Obor Indonesia.

Sumalyo, Y. (2005). Arsitektur Modern Akhir Abad XIX dan Abad XX, Edisi ke-2. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Published

2019-12-27

Issue

Section

Articles